Cara Tepat Memasarkan Telur Ayam Kampung agar Untung Besar

JAGO BISNIS & BETERNAK AYAM KAMPUNG
Penulis: Ir. Bambang Krista & Bagus
Ukuran: 19 x 24 cm
Tebal: vi + 182 hlm
Penerbit: AgroMedia Pustaka
ISBN: 979-006-491-8
Harga: Rp 70000


Cara Tepat Memasarkan Telur Ayam Kampung agar Untung Besar  | Bisnis ayam kampung petelur sangat berkaitan dengan sistem pemasaran telur. Produk telur harus dipasarkan secara tepat agar mendapatkan keuntungan besar sesuai harapan. Bidikan pemasaran utama ialah pasar modern, karena harga jualnya lebih tinggi dibandingkan pasar tradisional. Selisih harganya dapat mencapai Rp1.000 per butir. Hanya saja Anda harus memprioritaskan kualitas telur, baik secara kuantitas, isi, warna, ukuran, kehalusan cangkang, maupun kekerasan cangkang.

Berikut beberapa tip untuk Anda sebelum memasarkan telur agar mendapatkan untung besar.
1. Sortir setiap produksi telur, kemudian bagi ke dalam tiga kelas.

  • Kelas 1. Memiliki bobot 45—50 gram, bentuk oval sempurna, putih bersih, licin, dan bersih.
  • Kelas 2. Bobot 50—55 gram, bentuk oval sempurna, warna kecokelatan, licin, dan bersih. Tidak ada kasar-kasar di permukaan kulit.
  • Kelas 3. Di bawah 45 gram atau di atas 55 gram, bentuk tidak sempurna atau tidak beraturan, warna kecokelatan, dan kasar atau berbintik.

2. Kelas 1 diperuntukkan untuk pasar modern, seperti supermarket dan minimarket. Kemas telur agar tampil lebih menarik. Harga jualnya berkisar Rp1.700—Rp2.200 per butir.
3. Kelas 2 dapat dijual ke pedagang jamu, pengepul, atau pembeli eceran dengan kisaran harga Rp1.300—Rp1.500 per butir.
4. Kelas 3 dapat dijual ke pasar tradisional atau pabrik kue dan roti dengan kisaran harga Rp1.200 per butir.
5. Jika menjual ke pasar modern, pastikan pembayarannya maksimal seminggu setelah telur terjual agar modal cepat kembali berputar.
6. Karena pasar modern biasanya menggunakan sistem konsinyasi, telur yang tidak terjual akan dikembalikan. Pastikan Anda mengambil telur yang tidak terjual 1 minggu sebelum kadaluarsa untuk dijual kembali ke pasar lain. Kemudian, ganti telur dengan yang baru. Begitu seterusnya, agar tidak ada telur yang busuk sebelum terjual.

Demikian tip menjual telur ayam kampung sebagaimana dijelaskan di dalam buku “Jago Bisnis & Beternak Ayam Kampung” terbitan AgroMedia Pustaka. Di dalam buku yang ditulis oleh Ir. Bambang Krista & Bagus Harianto ini, Anda akan mendapati berbagai uraian, petunjuk, teknis, dan tips lainnya terkait bisnis dan beternak ayam kampung, mulai dari persiapan, menghitung modal, perawatan, hingga pemasaran.

lihat informasi menarik : cara tepat memasarkan telur ayam kampung

Jatuh Bangun Bambang Krista, Bos Ayam Kampung Unggulan

Bos Ayam Kampung Unggulan|  Permintaan terhadap daging ayam kampung di daerah perkotaan sangat tinggi. Dan tidak diragukan lagi potensi bisnisnya begitu tinggi. Entrepreneur satu ini mencium dan memanfaatkan peluang ini dengan baik.

Bambang Krista, seorang entrepreneur asal Solo yang tinggal di Bekasi, dengan sigap menangkap peluang ini dengan mendirikan sebuah bisnis peternakan bernama ” Citra Lestari Farm” seluas 6 ha dan membangun jaringan bisnis ayam kampung di daerah Jabodetabek. Tak kurang 5 ribu ekor ayam dan 10 ribu telur ayam ia mampu jual tiap minggu. Yang ia pasok berupa banyak jenis produk, dari ayam kampung siap potong, telur ayam kampung hingga bibit ayam kampung. Untuk produk daily old chicken (DOC) perusahaan Bambang sanggup menghasilkan 7 hingga 10 ribu ekor untuk tiap minggu. Tak ayal,

omset mingguan puluhan juta pun ia raup. “Omset kami mencapai Rp 20 juta per minggu,” terangnya.

Bambang Krista: Diselamatkan Ayam Kampung

Frustasi didera kebangkrutan usaha broiler, ia beralih ke ayam kampung yang ternyata menyelamatkan masa depannya

Sapa gething, bakal nyanding. Jika terlalu membenci sesuatu, kelak justru akan didekatkan. Kurang lebih inilah yang terjadi pada Bambang Krista. Ketika menimba ilmu peternakan di Universitas Diponegoro lebih dua dasawarasa silam, dia paling anti dengan mata kuliah perunggasan. Bolos kuliah pun tak segan-segan dilakukannya demi menghindari perkuliahan soal ayam. Siapa sangka, ia kini malah bertopang hidup pada unggas, makhluk yang dulu tak disukainya.

Lelaki 45 tahun asal Solo yang pernah puluhan tahun malang melintang menjadi peternak broiler itusekarang mantap memutuskan fokus di komoditas ayam kampung. Seorang rekan peternak anggota Gopan (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) mengatakan, ?Sejak saya masih jadi TS (sebutan untuk tenaga pemasaran perusahaan obat/pakan ternak) dan belum punya ayam sama sekali dia ini sudah kerjaannya di budidaya broiler, dulunya.?

bapak

Bambang Krista

Kini belum genap setahun Bambang mengembangkan ayam kampung petelur, gurihnya bisnis tersebut telah dia rasakan. Populasi induk ayam kampung di kandangnya mencapai 4000 ekor dengan produksi telur mencapai 1500 butir perhari, plus 300 pejantan dan anakan umur 1 ? 7 hari tak kurang dari 2000 ekor. Sementara broiler-nya kini tersisa tak lebih dari 15 ribu ekor. ?Akan lebih fokus di ayam kampung, tapi karena masih belajar, broiler meski sedikit masih jalan,? Bambang menjelaskan pilihan. Kini ia memiliki 8 unit mesin tetas dengan periode pull chick tiap Senin dan Kamis. ?Produksi rata-rata 1000 DOC per minggu,? sebutnya. Selain memasarkan telur, Bambang juga menjual anakan. ?Rencananya, kelak jual pullet (calon petelur-red) juga,? tambahnya.